Berita
Senin, 22 Februari 2010
Darwin: Cost Recovery Tak Bisa Dihindari
Hal tersebut dikatakan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh seperti dilansir dalam situs KESDM, Senin (22/2).
Ia menjelaskan, secara alamiah tingkat produksi migas akan terus menurun sejalan dengan menurunnya tekanan dan jumlah cadangan migas yang tak terbarukan (non renewable). Untuk menahan penurunan produksi yang tajam, diperlukan upaya-upaya dalam bentuk production maintenance dan optimization.
"Tanpa tambahan biaya tersebut, produksi akan menurun secara alamiah sehingga pendapatan dan margin akan menurun lebih cepat," ujarnya.
Penurunan produksi, lanjut
Terkait kondisi ekonomi makro dan harga minyak dunia, menurut
Selain inflasi, hukum permintaan dan penawaran juga berpengaruh pada harga barang dan jasa untuk operasi migas. Ketika terjadi lonjakan permintaan akan barang atau jasa, maka harga akan melonjak.
“Selanjutnya, tingginya harga pasar migas akan meningkatkan cash flow KKKS sehingga dapat memicu peningkatan kegiatan investasi migas yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa untuk operasi migas,” tuturnya.
Mengenai mekanisme pembebanan cost recovery, Darwin mengatakan, salah satu ciri industri migas adalah mengakumulasi biaya selama beberapa tahun untuk kemudian dikurangkan jika sudah ada produksi atau revenue. Khususnya pada awal-awal tahun produksi, nilai produksi atau pendapatan umumnya belum sebanding dengan jumlah akumulasi biaya yang telah dikeluarkan.
Pada tahapan ini, tuturnya, cost recovery yang tinggi justru merupakan hal yang positif karena akan mempercepat waktu pengembalian biaya yang telah dikeluarkan beberapa tahun sebelumnya. Percepatan cost recovery ini akan mempercepat KKKS memperoleh profit dan pemerintah memperoleh penerimaan yang lebih besar. (PME-01/SGT)




