Opini
Selasa, 16 Februari 2010
Gas Donggi Senoro untuk Domestik
Keberadaan Lapangan Donggi Senoro sudah lebih dari 30 tahun dengan investasi yang sangat besar. Namun sayang hingga saat ini pemerintah belum melakukan tindakan konkret terkait masalah penjualan hasil produksi lapangan tersebut. Padahal nilai jual gas Donggi Senoro cukup tinggi.
Mana yang paling menguntungkan dari tiga opsi tersebut? Sekarang mari lihat satu persatu. Jika diekspor semua, bagaimana dengan kebutuhan dalam negeri yang sedang terjadi kelangkaan gas. Lalu kita berpikir bagaimana jika semuanya dipakai untuk dalam negeri namun kita tidak punya dana jika gas-nya dalam bentuk LNG.
Sebaiknya gas nya tidak dijadikan LNG dulu tapi dijadikan untuk produksi pupuk karena saat ini kita perlu pupuk. Ssebagian lagi untuk penerangan listrik di
Memang jika dilihat dari nilai penjualan, Donggi Senoro lebih menguntungkan dijual keluar namun jika digunakan buat produksi pupuk kita bisa hitung dan ini bisa jauh lebih menguntungkan karena bisa memproduksi pupuk untuk 15 tahun kedepan, hasilnya bisa dibayangkan berapa juta ton pupuk yang akan dihasilkan selama 15 tahun itu.
Jika langkah ini dilakukan maka feknya sangat menguntungkan BUMN sekaligus kelangkaan pupuk yang terjadi bisa teratasi dengan begitu petani juga bisa meningkatkan hasil panennya.
Selain itu dengan belajar menggunakan sumberdaya alam sendiri kita mendapat nilai tambah, kalau dijual keluar kita seperti menjual glondongan tapi kalau kita oleh dijadikan pupuk ada aktivitas yang membuka lapangan pekerjaan baru dan menciptakan tenaga-tenaga ahli baru.
Kami mengajak semua pihak terkait agar duduk bersama untuk membicarakan hal ini, banyak keuntungan yang akan didapat jika gas Donggi Senoro digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Mengenai harga sebaiknya kita harus tahu persis cost yang mereka keluarkan baru dilihat hitung-hitugannya. Dalam hal ini produsen juga jangan sampai dirugikan tetapi juga jangan sampai memberikan harga yang tinggi atau disamakan dengan harga internasional yang berlaku.
Misalkan untuk pupuk dijual dengan harga US$3/ MMSCFD dari pemerintah misalnya subsidi US$2/ MMSCFD, itu sama saja dengan pemerintah mensubsidi BBM, tetapi jika pemerintah melakukan subsidi gas untuk pupuk banyak hal yang akan didapat, selain mengatasi kelangkaan pupuk juga pasokan listrik ke masyarakat setempat terpenuhi.
Selama ini sumber daya alam kita hampir semuanya diekspor dengan kedaan mentah, mulai dari minyak, gas, kayu dan sebagainya. Seharusnya kita meniru Jepang yang pandai mengelola sumber daya alam padahal mereka sendiri tidak punya sumber daya alam tapi mereka mempunyai teknologi.
Sudah saatnya kita mengelola sumbervdaya alam kita sendiri untuk kebutuhan kita sendiri jangan lagi menjual sumber daya alam kita dalam keadaan mentah. Karena menjual mentah atau gelondongan, selain merugikan juga tidak memberikan nilai tambah. (PME-01/SGT)
(Opini ini disarikan dari wawancara Uyung Syafitri, PME Indonesia dengan Alimin Abdullah, Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PAN)




